Mencoba "Project-Based Learning"




Kamis, 24 November 2016
Tidak semua keluarga berlatar belakang profesi atau pun praktisi project management. Tetapi ide tentang belajar melalui pengerjaan sebuah proyek ini mulai banyak dilontarkan para praktisi pendidikan sejak banyak keluarga homeschooling melakukannya.

*Hemm..Jadi keinget piramida belajar yang menyatakan, bahwa "praktek langsung" memiliki komposisi sebanyak 70% untuk lebih diingat anak didik. :)

Yang dimaksud dengan project-based learning ini sebenarnya sederhana saja. Anak diajak untuk belajar secara komprehensif dengan mengerjakan sebuah proyek yang disepakati bersama. Jadi belajarnya menyeluruh alias tematik, bukan berdasarkan satuan mata pelajaran saja.

Tidak perlu mempraktikkan teori project management secara detil, kita cukup mengadopsi konsep pengelolaan proyek melalui pendekatan keilmuan project management-nya saja untuk dapat mengerjakan kegiatan belajar ini.


Yang perlu diperhatikan hanya 3:


  1. Perencanaan
  2. Eksekusi
  3. Monitoring dan Evaluasi


PERENCANAAN PROJECT

Sebelum memulai proyek, ada beberapa hal yang dapat didiskusikan dan disepakati dulu dengan anak, seperti:

  • Perencanaan tema proyek (mau mengerjakan apa). Di sini, anak dapat diajak memulai dengan proyek-proyek sederhana, misal, proyek mengganti seluruh tanaman di halaman rumah, proyek mendekorasi ulang kamar, proyek memperbaiki (make over) sepeda, proyek merajut taplak meja ruang tamu, dan lain-lain. Angkatlah tema-tema proyek dari keseharian anak agar proyek terasa semakin "real".
  • Perencanaan jadwal proyek. Anak diajak untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan proyek ini. Durasi ini ditentukan pula oleh banyaknya kegiatan yang akan dikerjakan selama proyek berlangsung.
  • Perencanaan kegiatan proyek. Anak diajak untuk merumuskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dalam pengerjaan proyek.
  • Perencanaan tim proyek. Anak mulai melihat dan menelaah, siapa saja yang perlu terlibat dalam pengerjaan proyeknya. Tim proyek dapat terdiri dari keluarga saja (tim internal), atau bisa jadi melibatkan pula orang luar (kalau di project management biasa disebut vendor/konsultan). Tim yang terdiri dari pihak eksternal ini misalnya bengkel, atau para ahli, supplier, dll).
  • Perencanaan anggaran proyek. Di sini anak diajak untuk menghitung berapa perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk proyek ini.



EKSEKUSI PROJECT

Setelah perencanaan dibuat, selanjutnya tinggal mengerjakan proyek. Di sini orangtua hendaknya memberikan kebebasan pada anak untuk menangani pengerjaan proyeknya sendiri sesuai perencanaan yang telah dibuat dan disepakati. Usahakan untuk sedapat mungkin menahan diri membantu atau mengambil alih pengerjaan proyek di saat-saat anak mengalami kesulitan ataupun terlihat kelelahan, karena berpotensi menurunkan endurance alias ketahanan belajar anak.

Biarkan anak membuat salah, gagal, ataupun keluar jalur. Orangtua cukup meilhat, mengamati dan memotivasi dari belakang. Sesekali orangtua dapat mengingatkan anak untuk melihat kembali perencanaan yang sudah dibuat dan disepakatinya.

Bila orangtua terlibat dalam tim proyek, maka orangtua dapat berperan sesuai role yang disepakati. 

Bila ternyata pengerjaan proyek tidak sesuai dengan perencanaan awal (dan seringkali memang begitu), maka orangtua dapat mendampingi anak untuk menyesuaikan kembali perencanaannya dengan situasi aktual. Tetapi, tentu saja dengan catatan, perubahan yang dibuat sebaiknya tidak melenceng terlalu jauh dari perencanaan awal.

Dengan mengerjakan sebuah proyek "nyata", anak-anak akan mempelajari banyak hal sekaligus, bahkan bukan tidak mungkin mempelajari banyak bidang keilmuan sekaligus. Misal:

  • Belajar bahasa lewat penyusunan dokumentasi proyek (termasuk rencana dan laporan proyek)
  • Belajar matematika lewat penyusunan anggaran proyek.
  • Belajar keterampilan praktis lewat pngerjaan inti proyeknya (misal, memperbaiki sepeda, merajut taplak meja, memasak, atau yang lain).
  • Belajar keterampilan komunikasi lewat jalinan silaturahmi dan koordinasi yang dilakukannya dengan seluruh tim proyek.
  • Belajar biologi (bila proyeknya berkaitan dengan tumbuhan. hewan, atau manusia).
  • Belajar programing (bila proyeknya berkaitan dengan membaut games ataupun film animasi dsb).
  • Belajar agama Islam (bila proyeknya memuat konten-konten islami dan ditujukan untuk keperluan anak muslim).
  • Dan lain-lain.


MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring berarti pengawasan yang dilakukan selama proyek berlangsung. Monitoring ini dapat dilakukan oleh seluruh tim proyek, dimaksudkan untuk mengawal dan menjaga agar proyek berjalan sesuai perencanaan awal.

Sedangkan Evaluasi adalah penilaian dan perumusan hasil akhir proyek. Apakah hasil yang dicapai sesuai perencanaan, apakah proses pengerjaannya sesuai, atau durasi yang ditempuh sesuai, dan lain-lain. Intinya, evaluasi ini mencakup penilaian terhadap keseluruhan eksekusi dibandingkan dengan perencanaan.

Termasuk yang dibicarakan dalam evaluasi adalah, apakah anak merasa puas dengan proyeknya, serta kendala dan solusi yang dihadapi serta ditemukan anak selama pengerjaan proyek.

Hasil evaluasi juga perlu ditulis dalam jurnal proyek anak.
Nantinya, jurnal ini dapat ikut dikumpulkan sebagai salah satu isi dari portfolio anak.


Nah, Ayah Bunda, ternyata ga terlalu sulit kan mengadakan kegiatan belajar berbasis proyek ini?
Sulit ga ya? Heem...
Dicoba aja yuk!
*inget yang tadi, praktek langsung dapat menguatkan ingatan belajar anak hingga 75% lho...hihihi :D

Selamat ber-project based learning. :)

0 comments:

Posting Komentar

 

TENTANG

Search Artikel

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Kumpulan Emak Blogger

Mom Blogger Community

Mom Blogger Community
Member of MBC

Copyright © 2015 • Seribu Langkah Seribu Rasa
Blogger Templates